Menjaga Asa Koperasi Desa di Tepian Sungai Musi
Semua BeritaOpini

Menjaga Asa Koperasi Desa di Tepian Sungai Musi

2 November 2026 Redaksi Kopdes Merah Putih

Di tengah tantangan logistik rawa lebak, pengurus koperasi di Banyuasin berupaya memutus rantai tengkulak karet agar harga di tingkat petani tetap terjaga.

Menembus Batas Rawa Lebak Banyuasin

Di sepanjang aliran Sungai Musi, tepatnya di wilayah Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, kehidupan warga desa sangat bergantung pada pasang surut air. Karakter geografis dataran rawa lebak ini bukan sekadar pemandangan, melainkan tantangan nyata bagi distribusi logistik. Bagi pengurus koperasi desa di sini, akses jalan yang sering terendam air menjadi hambatan utama dalam mengumpulkan hasil bumi. Data jaringan Kopdes Merah Putih mencatat ada 980 koperasi desa di Sumatera Selatan dengan 175.000 anggota yang tersebar di berbagai medan, termasuk wilayah pesisir yang menantang ini. Seringkali, truk pengangkut karet harus tertahan berjam-jam karena akses jalan desa yang belum memadai, membuat biaya operasional membengkak dan akhirnya memotong margin keuntungan petani.

Persoalan ini bukan hal baru, namun menjadi semakin mendesak ketika koperasi dituntut untuk menjadi pusat distribusi barang subsidi. Pengurus koperasi di Banyuasin kini harus memutar otak agar gudang koperasi tidak hanya menjadi tempat penyimpanan, tetapi juga titik kumpul hasil panen yang efisien. Mereka mulai memanfaatkan perahu motor sebagai moda transportasi alternatif untuk menjangkau dusun-dusun terpencil yang tidak bisa dilalui kendaraan roda empat. Upaya ini dilakukan agar komoditas karet dan sawit dari petani kecil tetap bisa terserap dengan harga yang adil, tanpa harus tergerus oleh biaya angkut yang tinggi akibat kondisi geografis yang sulit.

Melawan Dominasi Tengkulak Karet

Selain kendala infrastruktur, tantangan terbesar yang dihadapi koperasi di Sumatera Selatan adalah ketergantungan petani pada sistem ijon atau tengkulak. Di banyak desa, petani karet sudah terikat utang budi atau modal kepada pengepul besar sejak sebelum masa panen tiba. Akibatnya, mereka tidak memiliki posisi tawar saat harga karet di pasar global sedang bergejolak. Koperasi desa di wilayah ini sedang mencoba keluar dari jeratan tersebut dengan menyediakan skema talangan modal yang lebih manusiawi. Dengan memanfaatkan dana desa yang dialokasikan untuk penguatan ekonomi, koperasi mulai berani membeli karet petani dengan harga yang lebih kompetitif dibandingkan tengkulak.

Langkah ini tentu tidak mudah. Koperasi harus memiliki manajemen arus kas yang sangat disiplin agar tidak mengalami gagal bayar. Beberapa pengurus koperasi di Banyuasin mulai menerapkan sistem pencatatan digital sederhana untuk memantau setiap transaksi anggota. Mereka sadar bahwa kepercayaan adalah modal utama. Jika koperasi mampu memberikan kepastian harga dan pembayaran tunai yang cepat, petani akan dengan sendirinya beralih dari tengkulak ke koperasi. Ini adalah perjuangan panjang untuk mengembalikan kedaulatan ekonomi di tingkat desa, di mana koperasi benar-benar berfungsi sebagai pelindung bagi mereka yang paling rentan di rantai pasok komoditas perkebunan.

Inovasi Pengolahan Sawit Rakyat

Di sisi lain, komoditas sawit juga menjadi tulang punggung ekonomi desa di Sumatera Selatan. Namun, banyak koperasi desa yang masih kesulitan untuk melakukan hilirisasi sederhana. Sebagian besar koperasi hanya berperan sebagai pengepul tandan buah segar (TBS) yang kemudian dijual ke pabrik besar dengan harga yang ditentukan sepihak. Untuk mengatasi hal ini, beberapa koperasi di wilayah Musi Banyuasin mulai menjajaki kemitraan dengan pihak swasta untuk pengadaan alat pengolahan minyak goreng skala kecil. Tujuannya sederhana: memberikan nilai tambah pada produk sawit sebelum keluar dari desa.

Meski masih dalam tahap rintisan, semangat untuk mengolah sendiri hasil bumi ini mulai tumbuh. Pengurus koperasi menyadari bahwa menjual minyak goreng curah atau produk turunan lainnya jauh lebih menguntungkan daripada sekadar menjual TBS. Mereka kini sedang berupaya memenuhi standar perizinan dan sertifikasi agar produk olahan koperasi bisa masuk ke pasar yang lebih luas, termasuk ke gerai-gerai koperasi di tingkat kecamatan. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru bagi pemuda desa yang selama ini memilih merantau ke Palembang atau kota besar lainnya karena minimnya peluang ekonomi di kampung halaman.

Harapan dari Dana Desa

Penggunaan dana desa yang kini diarahkan untuk mendukung operasional koperasi desa menjadi angin segar sekaligus tanggung jawab besar. Di Sumatera Selatan, dana desa sebesar 41 miliar rupiah yang tercatat dalam data jaringan Kopdes Merah Putih menjadi tumpuan untuk memperbaiki sarana fisik seperti gudang dan alat angkut. Namun, pengurus koperasi di lapangan berharap pemerintah tidak hanya fokus pada pembangunan fisik semata. Pendampingan teknis dalam hal manajemen bisnis dan akses pasar jauh lebih dibutuhkan agar koperasi tidak sekadar menjadi pajangan, melainkan benar-benar beroperasi secara mandiri.

Koperasi desa di Sumatera Selatan memiliki potensi besar jika dikelola dengan jujur dan transparan. Semangat gotong-royong yang masih kental di desa-desa pesisir Musi adalah modal sosial yang tidak ternilai. Jika hambatan logistik bisa diatasi dengan dukungan infrastruktur yang tepat dan ketergantungan pada tengkulak bisa diputus melalui skema permodalan yang sehat, koperasi desa akan menjadi pilar ekonomi yang tangguh. Ini bukan tentang angka statistik di atas kertas, melainkan tentang memastikan setiap petani karet dan sawit di pelosok Sumatera Selatan mendapatkan haknya atas kesejahteraan yang lebih baik melalui wadah koperasi yang mereka miliki sendiri.

Artikel redaksi Kopdes Merah Putih dengan mengacu pada data jaringan internal dan kondisi lapangan di Sumatera Selatan.